USD/IDR: Rupiah Masih Tertekan di Dekat Rp17.700, Pasar Menanti Sikap BI

  • Rupiah melemah tipis ke sekitar Rp17.694 per Dolar AS pada akhir sesi Asia.
  • USD/IDR sempat menyentuh Rp17.800, area terlemah baru historis yang mempertebal kewaspadaan pasar.
  • Ekspektasi kenaikan BI-Rate menguat di tengah Dolar AS yang perkasa, minyak mahal, dan risiko AS-Iran yang belum reda.

Rupiah masih sulit keluar dari tekanan pada perdagangan Rabu, menjelang pengumuman keputusan suku bunga Bank Indonesia. Mata uang Garuda berada di sekitar Rp17.694 per Dolar AS pada akhir sesi Asia, melemah 0,08% setelah pasangan mata uang USD/IDR sempat menyentuh Rp17.800, level yang menandai pelemahan terdalam Rupiah dalam perdagangan hari ini sekaligus area terlemah baru secara historis.

Tekanan serupa terlihat pada kurs transaksi Bank Indonesia. Kurs jual USD ditetapkan di Rp17.807,60, sementara kurs beli berada di Rp17.630,40 per Dolar AS. Dengan pembukaan di sekitar Rp17.680, pergerakan Rupiah masih tampak defensif, menandakan ruang pemulihan belum lebar selama Dolar AS tetap mendapat dorongan dari sentimen global.

Pasar Menunggu Sinyal BI

Pelemahan Rupiah membuat ekspektasi terhadap langkah Bank Indonesia bergeser lebih hawkish. Dalam survei terbaru Reuters, mayoritas tipis ekonom memprakirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan 25 bp ke 5,00% pada pertemuan 20 Mei. Langkah itu dipandang sebagai upaya menahan pelemahan Rupiah, yang sudah tertekan sekitar 5% sejak perang AS-Iran pecah pada akhir Februari.

Meski inflasi masih relatif terkendali di 2,42% dan berada dalam sasaran BI, stabilitas nilai tukar kini menjadi perhatian utama pasar. Dengan Rupiah bergerak di dekat batas psikologis baru, ruang BI untuk tetap pasif dinilai semakin sempit.

Pemerintah Coba Tenangkan Pasar

Dari sisi pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis 1998. Ia menyebut tekanan pada masa itu dipicu lonjakan suku bunga ekstrem, sektor riil yang terpukul, serta pertumbuhan uang beredar yang sangat besar. Kondisi sekarang dinilai berbeda karena sektor riil masih berjalan dan pertumbuhan uang beredar berada di kisaran 10%-15%.

Purbaya juga menyebut Rupiah berpeluang kembali ke Rp12.000 per Dolar AS dalam jangka menengah, meski secara bertahap dalam sekitar tiga tahun. Untuk jangka pendek, ia menyoroti arus keluar asing dari pasar obligasi sekitar Rp21 triliun dalam empat bulan terakhir. Untuk jangka pendek, Purbaya menyebut pemerintah sudah mulai masuk bertahap ke pasar obligasi dan akan melanjutkan langkah tersebut melalui skema Bond Stabilization Fund bersama koordinasi Bank Indonesia, guna menjaga stabilitas SBN dan membantu meredam tekanan terhadap Rupiah.

Sinyal optimistis turut datang dari Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah memasang asumsi Rupiah 2027 di kisaran Rp16.800-Rp17.500 per Dolar AS, dengan target defisit fiskal 1,8%-2,4% PDB, pertumbuhan ekonomi 5,8%-6,5%, dan inflasi 1,5%-3,5%.

Analis Lihat Ruang Penguatan Masih Terbatas

Kontan mengutip M. Rizal Taufikurahman dari Indef yang menilai tekanan Rupiah bukan sekadar pergerakan harian. Menurutnya, pelemahan mata uang Garuda terbentuk dari kombinasi kuatnya Dolar AS, mode risk-off global, harga minyak tinggi, persepsi risiko fiskal, kebutuhan valas korporasi, dan ekspektasi terhadap respons BI.

Ia memprakirakan Rupiah bergerak di kisaran Rp17.650-Rp17.800 per Dolar AS pada Rabu. Tanpa sinyal kebijakan yang lebih tegas, ruang penguatan Rupiah dinilai masih terbatas.

Minyak Mahal dan Risiko AS-Iran Menambah Beban

Dari eksternal, ketegangan terbaru AS-Iran memasuki fase jeda yang rapuh. Diplomasi mulai bergerak setelah Presiden AS Donald Trump menyebut perang dapat berakhir cepat dan pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan. Namun, Washington tetap mempertahankan tekanan melalui sanksi baru terhadap jaringan keuangan serta kapal pengangkut minyak Iran.

Di saat yang sama, Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Gangguan pasokan energi masih menjaga harga minyak di level tinggi, meski harga bergerak sedikit melemah. Mengutip Bloomberg, WTI crude oil kontrak Juli 2026 diperdagangkan di US$103,89 per barel, turun 0,25%, sementara Brent crude oil kontrak Juli 2026 berada di US$110,84 per barel, turun 0,40%.

Bagi Rupiah, minyak mahal tetap menjadi beban karena dapat memperbesar tekanan impor energi, menjaga ekspektasi inflasi, dan menambah kekhawatiran terhadap posisi fiskal.

Dolar AS Masih Perkasa

Tekanan eksternal juga datang dari Dolar AS yang melanjutkan rally lebih dari sepekan. Indeks Dolar AS atau DXY naik 0,1% dan bertahan di atas 99,30, ditopang ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed setidaknya bisa menaikkan suku bunga satu kali lagi tahun ini.

Ekspektasi hawkish tersebut menguat karena harga minyak yang tinggi berisiko menjaga inflasi AS tetap lengket. Pasar kini menunggu risalah rapat FOMC April yang akan dirilis pukul 18.00 GMT atau Kamis pukul 01.00 WIB untuk mencari petunjuk baru mengenai arah suku bunga AS.

Dengan Dolar AS yang masih kuat, harga minyak tinggi, dan pasar menunggu respons BI, Rupiah berpotensi tetap bergerak hati-hati dalam jangka pendek. Keputusan suku bunga hari ini menjadi titik penting untuk mengukur apakah pasar melihat cukup alasan bagi Rupiah untuk mulai menahan pelemahan.


Indikator Ekonomi

Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia

Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Mei 20, 2026 07.30

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: 5%

Sebelumnya: 4.75%

Sumber: Bank Indonesia

Indikator Ekonomi

Risalah Rapat FOMC

FOMC singkatan dari Federal Open Market Committee yang mengatur 8 pertemuan dalam setahun dan ulasan kondisi ekonomi dan keuangan, menentukan sikap yang tepat dalam kebijakan moneter dan menilai risiko terhadap tujuan jangka panjang atas stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. FOMC Minutes yang dirilis oleh Dewan Gubernur Federal Reserve dan panduan yang jelas untuk kebijakan suku bunga AS di masa yang akan datang.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Mei 20, 2026 18.00

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: -

Sebelumnya: -

Sumber: Federal Reserve

Risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) biasanya diterbitkan tiga minggu setelah hari keputusan kebijakan. Investor mencari petunjuk mengenai prospek kebijakan dalam publikasi ini di samping pembagian suara. Nada bullish kemungkinan akan memberikan dorongan bagi greenback sementara sikap dovish dipandang sebagai USD-negatif. Perlu dicatat bahwa reaksi pasar terhadap Risalah Rapat FOMC dapat tertunda karena outlet berita tidak memiliki akses ke publikasi sebelum rilis, tidak seperti Pernyataan Kebijakan FOMC.


Ekuitas: Imbal hasil yang lebih tinggi mendorong rotasi risk-off – Danske Bank

Tim Riset Danske melaporkan bahwa ekuitas kembali dijual turun seiring dengan meningkatnya imbal hasil obligasi global serta kekhawatiran terhadap utang dan inflasi yang membayangi latar belakang makro dan pendapatan yang seharusnya konstruktif
আরও পড়ুন Previous

Euro memangkas kerugian terhadap Pound Inggris setelah data inflasi Inggris yang lebih lembut

Pasangan mata uang EUR/GBP mengurangi pelemahan di dekat 0,8660 selama awal perdagangan sesi Eropa pada hari Rabu. Pound Inggris (GBP) turun tipis terhadap Euro (EUR) menyusul rilis laporan inflasi Inggris
আরও পড়ুন Next