USD/IDR: Rupiah Makin Tenggelam ke Rp17.738, Pasar Menanti Keputusan BI

  • Rupiah melemah 0,75% ke Rp17.738 per Dolar AS pada akhir sesi Asia.
  • Kurs transaksi BI menunjukkan kurs jual USD di Rp17.754,33 dan kurs beli di Rp17.577,67.
  • Pasar menanti keputusan BI Rabu, dengan mayoritas tipis ekonom Reuters memprakirakan kenaikan suku bunga 25 bp ke 5,00%.

Rupiah masih tertekan cukup dalam terhadap Dolar AS pada Selasa akhir sesi Asia. Mata uang Garuda merosot 131,7 poin atau 0,75% ke Rp17.738 per Dolar AS, setelah bergerak dalam rentang harian Rp17.628-Rp17.739 menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pada Rabu. Posisi ini membawa Rupiah ke area terlemah baru dalam rentang tahunan Rp16.085-Rp17.739. Tekanan juga tercermin pada kurs transaksi BI, dengan kurs jual USD di Rp17.754,33 dan kurs beli di Rp17.577,67 per Dolar AS.

Minyak Tinggi Mmebuat Rupiah Babak Belur

Minyak yang masih tinggi ikut membuat Rupiah babak belur. Meski terkoreksi pada perdagangan Selasa, kontrak WTI Crude Oil di Nymex untuk pengiriman Juni 2026 masih berada di US$106,90 per barel, turun 1,62%, sementara Brent Crude untuk pengiriman Juli 2026 melemah 1,78% ke US$110,10 per barel. Posisi Brent di atas US$110 menunjukkan premi risiko energi belum sepenuhnya mereda.

Koreksi minyak terjadi setelah muncul optimisme hati-hati terhadap diplomasi AS-Iran. Trump menunda rencana serangan atas permintaan Qatar, Arab Saudi, dan UEA, tetapi tetap memerintahkan militer AS bersiap jika negosiasi gagal. Di sisi lain, proposal terbaru Iran masih memuat tuntutan berat, mulai dari pencabutan sanksi, pelepasan dana beku, pengakhiran blokade AS, hingga penarikan pasukan AS dari wilayah dekat Iran. Kombinasi sinyal diplomasi, tuntutan berat, dan ancaman militer membuat pasar tetap defensif, terutama karena risiko gangguan pasokan energi di Selat Hormuz masih menjaga premi risiko minyak.

Skenario Rp20.000 Mulai Masuk Radar

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah ekonom mulai membuka skenario Rupiah menuju Rp20.000 per Dolar AS, meski level itu masih lebih tepat dibaca sebagai risiko ekstrem, bukan proyeksi dasar pasar. Ekonom CELIOS Bhima Yudhistira menilai Rupiah bisa menyentuh Rp20.000 sebelum akhir Juni jika pelemahan berlanjut. Namun, proyeksi arus utama masih lebih moderat, dengan BI memprakirakan tekanan mereda pada Juli-Agustus dan sejumlah model pasar masih menempatkan USD/IDR di bawah Rp18.000 dalam horizon menengah.

Pemerintah dan BI Coba Redam Tekanan

Pemerintah dan BI berupaya meredam tekanan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan Rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek, sementara fundamental ekonomi masih kuat. Pemerintah juga mulai aktif masuk ke pasar obligasi melalui Bond Stabilization Fund, dengan dukungan sekitar Rp2 triliun per hari untuk menjaga stabilitas SBN. BI, di sisi lain, menyatakan intervensi telah ditingkatkan dan memprakirakan tekanan nilai tukar dapat mereda pada Juli-Agustus saat kebutuhan musiman Dolar menurun.

Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Pasar kini menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada Rabu, 20 Mei. Survei Reuters pada 11-18 Mei menunjukkan 16 dari 29 ekonom memprakirakan BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 5,00%, sementara deposit facility dan lending facility diproyeksikan naik masing-masing ke 4,00% dan 5,75%. Kenaikan, jika terjadi, akan dibaca sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga Rupiah di tengah tekanan eksternal yang kuat.

Setelah BI, fokus pasar akan bergeser ke Risalah Rapat FOMC. Antje Praefcke dari Commerzbank menilai lonjakan harga minyak akibat ketegangan Timur Tengah kembali mengangkat risiko inflasi AS dan menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Imbal hasil AS yang lebih tinggi, ditambah ketidakpastian strategi Trump terhadap Iran, berpotensi menjaga Dolar AS tetap kuat dan membatasi ruang pemulihan Rupiah.

Indikator Ekonomi

Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia

Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Rab Mei 20, 2026 07.30

Frekuensi: Tidak teratur

Konsensus: 5%

Sebelumnya: 4.75%

Sumber: Bank Indonesia

Valas Hari Ini: Dolar AS Menguat Seiring Meningkatnya Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed, Data IHK Kanada Mendekat

Berikut yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 19 Mei
Baca selengkapnya Previous

Yen Jepang: Intervensi versus Kredibilitas Dolar AS Memudar – ING

Catat analis Valas ING, Francesco Pesole, bahwa Yen Jepang (JPY) tetap lemah bahkan pada sesi Dolar AS (USD) yang lebih lembut, menunjukkan bahwa pasar ingin menguji toleransi resmi
Baca selengkapnya Next