Rupiah Stabil Usai Penjualan Ritel Indonesia, Pasar Fokus pada Sinyal The Fed dan Arah Negosiasi AS-Tiongkok

  • Rupiah diperdagangkan di Rp16.250 per dolar AS, naik tipis 6 poin atau 0,04%.
  • Penjualan Ritel Indonesia bulan Juni melambat, arus modal asing tetap positif di awal agustus.
  • Pasar menanti data inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Indeks Harga Rupiah Indonesia (IDR) terhadap dolar AS (USD) pada perdagangan Senin bergerak stabil di Rp16.250 menjelang sesi Eropa, menguat tipis 6 poin atau 0,04% dibanding penutupan sebelumnya. Pergerakan ini mencerminkan pasar tengah menakar kembali arah kebijakan global di tengah minimnya pemicu baru dari dalam negeri. Pasangan mata uang USD/IDR pada hari ini diproyeksikan bergerak di kisaran 16.230-16.310, dengan dinamika eksternal menjadi pengendali utama.

Tanpa dukungan sentimen domestik yang berarti, rupiah cenderung mengikuti arah indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi AS. Keyakinan bahwa gencatan tarif AS-Tiongkok yang akan berakhir pada 12 Agustus berpeluang diperpanjang, serta melemahnya dolar AS pasca komentar dovish pejabat The Fed, menambah ruang stabilisasi rupiah di awal pekan ini.

Ritel Juni Melambat, Modal Asing Masuk Rp9,24 Triliun di Awal Agustus

Dari sisi makro domestik, Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2025 berada di level 231,9 atau naik 1,3% secara tahunan, melambat dibanding pertumbuhan Mei sebesar 1,9%. Kinerja ini ditopang penjualan Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Makanan, Minuman dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Subkelompok Sandang. Meski mayoritas kategori mengalami perlambatan, penjualan pakaian berbalik positif 1,4% setelah tiga bulan tertekan. Secara bulanan, kontraksi ritel hanya 0,2%, lebih ringan dari Mei yang turun 1,3%, mencatat penurunan paling moderat dalam tiga bulan terakhir berkat belanja libur HBKN, libur sekolah, serta bantuan tunai pemerintah.

Arus modal asing turut menunjukkan sinyal positif. Sepanjang 4-7 Agustus 2025, investor nonresiden mencatat beli neto Rp9,24 triliun, terdiri dari Rp0,64 triliun di pasar saham, Rp6,27 triliun di Surat Berharga Negara (SBN), dan Rp2,33 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Meski premi Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun naik tipis ke 74,21 bp per 7 Agustus dari 73,68 bp pada awal bulan, SBN tetap menjadi instrumen favorit. Secara kumulatif tahun ini, nonresiden mencatat jual neto Rp61,13 triliun di saham dan Rp98,77 triliun di SRBI, namun membeli bersih Rp58,73 triliun di SBN.

Tarif AS-Tiongkok dan Sinyal Pelonggaran The Fed Jadi Sorotan Pasar Global

Di panggung perdagangan internasional, Presiden AS Donald Trump kembali menyoroti perdagangan kedelai, berharap Tiongkok melipatgandakan pembelian dari AS untuk mengurangi defisit perdagangan kedua negara. Pernyataan ini muncul di tengah negosiasi tarif yang memasuki tenggat, memunculkan spekulasi peluang perpanjangan gencatan dagang.

Beralih ke kebijakan moneter AS, Gubernur Federal Reserve Michelle Bowman menilai pelemahan pasar tenaga kerja kini menjadi risiko yang lebih besar dibanding inflasi, mendukung proyeksi tiga kali pemangkasan suku bunga pada sisa pertemuan tahun ini. Nada serupa datang dari Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem, yang melihat ekonomi AS masih stabil dengan pasar tenaga kerja seimbang, meski mulai muncul tanda pelemahan aktivitas dan inflasi yang sulit mereda.

Pasar kini memproyeksikan The Fed akan memulai penurunan suku bunga pada September, dengan setidaknya dua kali pemangkasan 25 bp hingga akhir tahun. Ekspektasi ini menguat setelah laporan Nonfarm Payrolls Juli memperlihatkan penurunan kekuatan pasar tenaga kerja.

Data Inflasi AS Diprakirakan akan Menggerakkan Dolar, Rupiah, dan Pasar Domestik

Pekan ini, fokus pasar tertuju pada rilis inflasi AS, yakni Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Selasa dan Indeks Harga Produsen (IHP) pada Kamis, bersama pernyataan dari sejumlah anggota FOMC. Hasil data dan komentar tersebut diprakirakan akan menjadi katalis utama bagi pergerakan dolar AS, sekaligus menentukan arah USD/IDR dan membentuk sentimen terhadap rupiah. Perubahan ekspektasi suku bunga The Fed yang mungkin muncul dari data ini juga berpotensi memengaruhi arus modal asing dan dinamika pasar domestik, termasuk SBN dan saham.

Pertanyaan Umum Seputar Inflasi

Inflasi mengukur kenaikan harga sekeranjang barang dan jasa yang representatif. Inflasi utama biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). Inflasi inti tidak termasuk elemen yang lebih fluktuatif seperti makanan dan bahan bakar yang dapat berfluktuasi karena faktor geopolitik dan musiman. Inflasi inti adalah angka yang menjadi fokus para ekonom dan merupakan tingkat yang ditargetkan oleh bank sentral, yang diberi mandat untuk menjaga inflasi pada tingkat yang dapat dikelola, biasanya sekitar 2%.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengukur perubahan harga sekeranjang barang dan jasa selama periode waktu tertentu. Biasanya dinyatakan sebagai perubahan persentase berdasarkan basis bulan ke bulan (MoM) dan tahun ke tahun (YoY). IHK Inti adalah angka yang ditargetkan oleh bank sentral karena tidak termasuk bahan makanan dan bahan bakar yang mudah menguap. Ketika IHK Inti naik di atas 2%, biasanya akan menghasilkan suku bunga yang lebih tinggi dan sebaliknya ketika turun di bawah 2%. Karena suku bunga yang lebih tinggi positif untuk suatu mata uang, inflasi yang lebih tinggi biasanya menghasilkan mata uang yang lebih kuat. Hal yang sebaliknya berlaku ketika inflasi turun.

Meskipun mungkin tampak berlawanan dengan intuisi, inflasi yang tinggi di suatu negara mendorong nilai mata uangnya naik dan sebaliknya untuk inflasi yang lebih rendah. Hal ini karena bank sentral biasanya akan menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi yang lebih tinggi, yang menarik lebih banyak arus masuk modal global dari para investor yang mencari tempat yang menguntungkan untuk menyimpan uang mereka.

Dahulu, Emas merupakan aset yang diincar para investor saat inflasi tinggi karena emas dapat mempertahankan nilainya, dan meskipun investor masih akan membeli Emas sebagai aset safe haven saat terjadi gejolak pasar yang ekstrem, hal ini tidak terjadi pada sebagian besar waktu. Hal ini karena saat inflasi tinggi, bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mengatasinya. Suku bunga yang lebih tinggi berdampak negatif bagi Emas karena meningkatkan biaya peluang untuk menyimpan Emas dibandingkan dengan aset berbunga atau menyimpan uang dalam rekening deposito tunai. Di sisi lain, inflasi yang lebih rendah cenderung berdampak positif bagi Emas karena menurunkan suku bunga, menjadikan logam mulia ini sebagai alternatif investasi yang lebih layak.

EUR/GBP Melambung di Atas 0,8650 di Tengah Optimisme atas Pertemuan Potensial AS-Rusia

Pasangan mata uang EUR/GBP merayap lebih tinggi mendekati 0,8665 selama awal sesi Eropa pada hari Senin. Euro (EUR) mendapatkan kekuatan terhadap Pound Sterling (GBP) di tengah optimisme seputar kemungkinan pertemuan antara AS dan Rusia
আরও পড়ুন Previous

WTI Melanjutkan Penurunan ke Dekat $62,50 saat Pedagang Bersiap untuk Potensi Perundingan AS-Rusia

West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, diperdagangkan di sekitar level $62,50 selama awal perdagangan sesi Eropa pada hari Senin. WTI melanjutkan penurunannya di dekat level terendah sejak bulan Juni di tengah optimisme atas pertemuan yang diusulkan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia
আরও পড়ুন Next