Pasar Saham Asia: Berusaha Keras Bergembira atas Imbal Hasil Treasury yang Lebih Lemah
- Ekuitas Asia melemah karena kekhawatiran terhadap virus Korona meningkat di Tiongkok.
- Kekhawatiran yang beragam atas langkah The Fed selanjutnya menantang imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah sesi yang lesu.
- Pasar di Australia, Jepang melawan tren bearish di tengah harapan bahwa kebijakan moneter yang mudah akan terus berlanjut.
- IMP awal untuk bulan November dan Risalah Rapat FOMC dan Keputusan Suku Bunga RBNZ merupakan acara penting untuk pekan ini.
Pasar Asia tetap menghindari risiko selama awal hari Selasa karena kekhawatiran baru akan Covid bergabung dengan keraguan atas langkah Federal Reserve AS (The Fed) selanjutnya. Kemungkinan, yang juga akan menantang para pedagang ekuitas Asia-Pasifik bisa jadi karena kalender ekonomi yang sepi di dalam negeri dan sentimen yang berhati-hati menjelang beberapa data/acara tingkat atas hari Rabu.
Sementara yang menggambarkan sentimen, Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik kecuali Jepang turun sebesar 1,60% dalam perdagangan harian sambil menyentuh kembali level terendah tujuh hari. Namun, Nikkei 225 Jepang didukung oleh harapan kebijakan uang mudah yang berkelanjutan bahkan jika pemerintah saling desak mengenai pengeluaran pertahanan. Dengan demikian, Nikkei 225 naik sebesar 0,70% dalam perdagangan harian ke sekitar 28.140 pada saat berita ini ditulis.
Tidak hanya Nikkei 225 Jepang, tetapi ASX 200 Australia juga mencetak kenaikan, naik sebesar 0,70% di sekitar 7.191 baru-baru ini, di tengah ekspektasi bahwa Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Philip Lowe akan mengulangi kata-kata dovish dalam pidato hari ini. Perlu dicatat bahwa data suram angka perdagangan Selandia Baru untuk bulan Oktober gagal menyenangkan paa pembeli ekuitas di Auckland di tengah adanya harapan atas sikap hawkish dari RBNZ.
Namun, kekhawatiran terhadap karantina ketat akibat COVID-19 di Tiongkok dan kemungkinan ketegangan pada rantai pasokan global, serta komoditas, tampaknya menantang sentimen di wilayah tersebut. Dengan itu, Tiongkok melaporkan kasus Covid tertinggi dalam tujuh bulan pada hari Selasa. Dengan ini, saham-saham di Tiongkok dan Hong Kong mencetak pelemahan.
Perlu dicatat bahwa keragu-raguan atas langkah The Fed selanjutnya tampaknya menantang para penjual di tengah imbal hasil obligasi pemerintah AS yang baru-baru ini lebih lemah. Imbal hasil obligasi 10-tahun pemerintah AS mencetak pelemahan harian pertama dalam empat tahun terakhir, turun satu basis poin mendekati 3,81% pada saat berita ini ditulis, karena beberapa komentar terbaru dari pejabat Federal Reserve (The Fed) gagal mendukung bias hawkish sebelumnya.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Loretta Mester mengatakan dalam sebuah wawancara CNBC, "Saya pikir kita bisa melambat dari 75 pada pertemuan Desember." Sebelumnya, Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic juga menolak langkah 75 bp dan menantang bull DXY. Selain itu, data suram dari Indeks Aktivitas Nasional The Fed Chicago untuk bulan Oktober, menjadi -0,05 dibandingkan dengan 0,17 sebelumnya, juga membebani imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, Penjualan Ritel dan Indeks Harga Produsen (IHP) AS yang kuat pekan sebelumnya membuat para pedagang tetap waspada.
Di tengah permainan ini, Kontrak Berjangka S&P 500 mencetak kenaikan tipis di sekitar 3.965 sedangkan harga emas mencetak kenaikan tipis di tengah kinerja negatif yang pertama oleh Indeks Dolar AS (DXY).
Selanjutnya, keputusan kebijakan moneter Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) hari Rabu akan mendahului pembacaan awal data aktivitas bulanan dan Risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk mengarahkan pergerakan pasar dalam jangka pendek.